Waspada Hantavirus! Kenali Penyebab, Gejala hingga Cara Penanganannya Sebelum Terlambat

AKURAT JABAR - Kasus Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia kesehatan setelah muncul laporan kematian terkait infeksi virus tersebut di kapal pesiar MV Hondius.
Penyakit langka yang berasal dari hewan pengerat itu kini ramai diperbincangkan karena dinilai memiliki gejala awal yang mirip penyakit umum sehingga sering terlambat dikenali.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari CNN, kasus pertama diduga dialami seorang pria asal Belanda berusia 70 tahun.
Saat berada di kapal pesiar MV Hondius, pria tersebut mengalami demam, sakit kepala, nyeri perut, serta diare secara mendadak.
Kondisinya kemudian memburuk dalam waktu singkat hingga akhirnya meninggal dunia pada 11 April 2026.
Tidak lama setelah itu, laporan lain yang dikutip dari AFP menyebut dua pria berusia 65 dan 67 tahun di Singapura sempat menjalani isolasi karena diketahui berada dalam satu kapal pesiar dan penerbangan yang sama dengan pasien terkonfirmasi Hantavirus dari St Helena menuju Johannesburg.
Peristiwa tersebut membuat masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan oleh tikus ini.
Apalagi, banyak orang belum memahami secara menyeluruh mengenai penyebab, gejala, hingga penanganan Hantavirus.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Instruksikan Dinkes Jabar Siaga Hantavirus, Respons Cepat Jadi Kunci Pencegahan
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan virus langka yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus yang terinfeksi.
Virus ini ditemukan di beberapa wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan serta dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal manusia.
Dilansir dari Mayo Clinic, penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui lingkungan yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus pembawa virus.
Virus tersebut bisa masuk ke tubuh manusia ketika seseorang menghirup partikel udara yang telah tercemar, terutama saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan tertutup yang lama tidak digunakan.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui makanan yang telah terkontaminasi oleh tikus, menyentuh benda yang terpapar virus lalu memegang area wajah tanpa mencuci tangan, hingga akibat gigitan atau cakaran tikus yang terinfeksi.
Beberapa jenis tikus yang diketahui dapat membawa Hantavirus antara lain tikus rusa, tikus kapas, tikus padi, tikus kaki putih, hingga tikus vesper.
Meski terdengar mengkhawatirkan, penularan antar manusia tergolong sangat jarang. Hingga saat ini, kasus penularan langsung antar manusia hanya tercatat pada jenis Andes virus yang ditemukan di kawasan Amerika Selatan.
Baca Juga: Dinkes Jabar Dorong Pelaksanaan Imunisasi Campak ORI untuk Cegah Penyebaran
Gejala Hantavirus Sering Dianggap Flu Biasa
Salah satu alasan Hantavirus dinilai berbahaya adalah gejalanya pada tahap awal sering menyerupai flu biasa atau kondisi tubuh yang sedang kelelahan.
Menurut Mayo Clinic, gejala biasanya muncul sekitar dua hingga tiga minggu setelah seseorang terpapar virus.
Beberapa gejala awal yang umum dialami penderita antara lain:
Demam tinggi dan menggigil mendadak
Nyeri otot dan sakit kepala
Mual, muntah, sakit perut, serta diare
Tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga
Ketika kondisi semakin parah, penderita dapat mengalami batuk hingga sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru.
Pada tahap serius, Hantavirus bahkan dapat menyebabkan tekanan darah menurun dan detak jantung menjadi tidak stabil.
Infeksi berat akibat virus ini dikenal dengan istilah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yaitu kondisi yang menyerang sistem pernapasan dan dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.
Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut setelah berada di lingkungan yang banyak tikus atau jarang dibersihkan.
Baca Juga: Disdik Jabar Tumbang 0-3 dari Dinkes di Laga Pembuka Liga Sabrengna Piala Gubernur Jabar 2026
Belum Ada Obat Khusus Hantavirus
Hingga saat ini, belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan infeksi Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada menjaga kondisi tubuh pasien agar tetap stabil dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dilansir dari CDC Amerika Serikat, pasien umumnya akan mendapatkan perawatan pendukung seperti pemberian cairan, oksigen tambahan, serta pemantauan intensif terhadap fungsi organ tubuh.
Pada kasus HPS yang berat, pasien bisa mengalami gangguan pernapasan serius sehingga membutuhkan bantuan ventilator atau prosedur intubasi untuk membantu suplai oksigen ke paru-paru.
Tidak hanya menyerang paru-paru, beberapa jenis Hantavirus juga diketahui dapat memengaruhi fungsi ginjal. Jika kondisi ginjal memburuk, pasien mungkin memerlukan prosedur dialisis untuk membantu menyaring racun dari tubuh.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa penanganan Hantavirus tidak dapat dilakukan secara mandiri di rumah ketika gejala sudah berkembang berat.
Pemeriksaan dan tindakan medis sejak dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Baca Juga: Lindungi Relawan, Dinkes Jabar Siapkan Suntik Anti Tetanus di Lokasi Longsor Cisarua
Pentingnya Menjaga Kebersihan Lingkungan
Kasus Hantavirus yang kembali menjadi sorotan dunia menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Masyarakat disarankan rutin membersihkan rumah, gudang, loteng, maupun ruangan tertutup lainnya.
Selain itu, makanan sebaiknya disimpan di tempat tertutup dan sampah rumah tangga harus dikelola dengan baik agar tidak mengundang hewan pengerat.
Langkah sederhana seperti menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang kotor juga dinilai dapat membantu mengurangi risiko paparan virus.
Kewaspadaan dini serta kebiasaan hidup bersih menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran Hantavirus dan melindungi kesehatan keluarga dari ancaman penyakit menular berbahaya tersebut.
Baca Juga: Wali Kota Muhammad Farhan Ungkap Penyebab Kematian Anak Harimau Bandung Akibat Infeksi Virus Ganas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sabet Penghargaan Disway Top Regional Leader Award 2026, Saepul Bahri Binzein Kokohkan Purwakarta sebagai Magnet Industri Jawa Barat
- 2Menguji Akuntabilitas di Tengah Polemik PCMB Jawa Barat: Solusi Untuk Calon Murid Lebih Utama daripada Pergantian Pimpinan
- 3Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 4BEM Se-Kota Makassar Gelar Dialog Kebangsaan, Dorong Independensi Mahasiswa Menuju Indonesia Emas
- 5Hari Jadi Purwakarta 2026 Dimulai, Om Zein Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Tradisi Muru Indung Cai
- 6HMI Cabang Purwakarta dan Wamenko Bidang Pangan: Merekonstruksi Ketahanan Pangan Nasional dari Perspektif Kader Mandataris dan Arsitektur Digital
- 7Sambut HUT Ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah, Personel Brimob Aceh Batalyon B Pelopor Gelar Aksi Donor Darah
- 8Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik
- 9Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 10Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik



