Hari Jadi Purwakarta 2026 Dimulai, Om Zein Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Tradisi Muru Indung Cai

AKURAT JABAR – Pemerintah Kabupaten Purwakarta resmi membuka rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026 melalui pelaksanaan tradisi budaya dan religi yang sarat makna, yakni Mitembeyan dan Muru Indung Cai.
Kegiatan pembuka tersebut dipusatkan di Masjid Agung Syekh Baing Yusuf, Purwakarta, dan berlangsung dengan khidmat. Ratusan peserta yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, aparatur sipil negara, serta masyarakat umum turut mengikuti seluruh rangkaian acara.
Tradisi Mitembeyan diawali dengan pembacaan selawat, zikir, doa bersama, hingga ziarah ke makam ulama besar Purwakarta, Syekh Baing Yusuf.
Kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan dan kearifan lokal bagi masyarakat Purwakarta.
Usai pelaksanaan Mitembeyan, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi adat Muru Indung Cai atau menuju sumber mata air. Tradisi ini dilakukan dengan mengambil air yang mengalir dari Situ Buleud menuju Sumber Mata Air Cibulakan.
Prosesi budaya tersebut diikuti secara langsung oleh Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para camat, kepala desa, ASN, tokoh adat, dan berbagai elemen masyarakat.
Baca Juga: Milangkala Purwakarta Istimewa 2025: Berpadukan Tradisi dan Modernitas Pecahkan Rekor MURI
Tradisi Bukan Sekadar Seremonial
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein menegaskan bahwa tradisi Muru Indung Cai tidak boleh dipahami hanya sebagai agenda tahunan yang bersifat seremonial.
Menurutnya, tradisi tersebut mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan melestarikan sumber daya air yang menjadi penopang kehidupan manusia.
"Air bisa tetap ada meskipun kita tidak ada, tetapi kita tidak akan bisa ada tanpa air. Bumi ini, salah satu tuan rumah utamanya adalah air. Dari total air di dunia, 97 persen ada di laut, 2 persen membeku, dan yang kita gunakan sehari-hari untuk minum, mandi, dan kebutuhan lainnya itu hanya 1 persen. Termasuk yang ada di Cibulakan," ujar Om Zein.
Ia mengingatkan bahwa keberadaan air menjadi faktor utama dalam keberlangsungan kehidupan manusia. Karena itu, masyarakat diajak untuk semakin peduli terhadap kelestarian mata air dan lingkungan sekitarnya.
Menjaga Alam Demi Generasi Mendatang
Dalam sambutannya, Om Zein juga mengajak masyarakat untuk kembali meneladani ajaran para leluhur yang selalu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian alam.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang megah tidak akan memiliki arti apabila sumber daya alam mengalami kerusakan.
"Mengapa setiap tahun dalam hari jadi Purwakarta kita selalu melaksanakan Muru Indung Cai? Tujuannya supaya mata air kita tetap dijaga, jangan dirusak. Kuncinya, hutan harus tetap ada, tebing harus tetap ditanami bambu. Jika hutan dirusak, hidup kita akan sengsara. Percuma kita membangun bangunan megah sekarang, tapi gunung dirusak, pohon bambu di tebing habis, sawah dan kolam hilang. Pembangunan kita akan mubazir," tambahnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari banyaknya gedung atau infrastruktur yang berdiri, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Menurut Om Zein, sumber air, hutan, sawah, dan kawasan hijau merupakan aset penting yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.
Muru Indung Cai Jadi Simbol Kearifan Lokal
Tradisi Muru Indung Cai selama ini telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Purwakarta. Selain menjadi simbol rasa syukur, ritual tersebut juga mengandung pesan ekologis tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Pemkab Purwakarta berharap momentum Hari Jadi Purwakarta 2026 dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk memperkuat komitmen menjaga lingkungan.
Pelestarian sumber air, penghijauan kawasan hutan, dan perlindungan daerah resapan air dinilai menjadi langkah penting dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan iklim dan ancaman krisis air di masa depan.
Melalui peringatan Hari Jadi Purwakarta 2026, pemerintah daerah juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.
Tradisi Mitembeyan dan Muru Indung Cai bukan hanya bagian dari seremoni peringatan hari jadi, melainkan sebuah pesan moral agar pembangunan daerah tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup generasi yang akan datang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sabet Penghargaan Disway Top Regional Leader Award 2026, Saepul Bahri Binzein Kokohkan Purwakarta sebagai Magnet Industri Jawa Barat
- 2Menguji Akuntabilitas di Tengah Polemik PCMB Jawa Barat: Solusi Untuk Calon Murid Lebih Utama daripada Pergantian Pimpinan
- 3Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 4BEM Se-Kota Makassar Gelar Dialog Kebangsaan, Dorong Independensi Mahasiswa Menuju Indonesia Emas
- 5Hari Jadi Purwakarta 2026 Dimulai, Om Zein Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Tradisi Muru Indung Cai
- 6HMI Cabang Purwakarta dan Wamenko Bidang Pangan: Merekonstruksi Ketahanan Pangan Nasional dari Perspektif Kader Mandataris dan Arsitektur Digital
- 7Sambut HUT Ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah, Personel Brimob Aceh Batalyon B Pelopor Gelar Aksi Donor Darah
- 8Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik
- 9Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 10Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik







