Jabar

UKK SMKN 10 Bandung Digelar di Kafe, Siswa Tampil Gigs Uji Kesiapan Industri Musik

Didin Wahidin | 26 April 2026, 20:05 WIB
UKK SMKN 10 Bandung Digelar di Kafe, Siswa Tampil Gigs Uji Kesiapan Industri Musik
Siswa SMKN 10 Bandung tampil dalam UKK musik konsep gigs di kafe untuk uji kemampuan dan mental.

AKURAT JABAR - Siswa kelas XII kompetensi keahlian Seni Musik Modern di SMKN 10 Bandung menjalani Uji Kompetensi Keahlian (UKK) dengan pendekatan yang tidak biasa.

Alih-alih berlangsung di ruang kelas atau panggung sekolah, ujian tersebut digelar dalam format pertunjukan musik langsung atau gigs di sebuah kafe.

Kegiatan ini berlangsung di Rooftop Coffee Ujung Berung selama tiga hari, mulai 21 hingga 23 April 2026. Dalam pelaksanaannya, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok layaknya sebuah band profesional.

Mereka ditantang untuk membawakan total 24 lagu secara live dalam durasi tiga jam penampilan.

Konsep ini dirancang untuk menghadirkan suasana yang menyerupai kondisi nyata di industri musik dan kreatif.

Tidak hanya sekadar ujian, kegiatan tersebut juga menjadi ajang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan bermusik mereka secara langsung di hadapan publik.

Kepala SMKN 10 Bandung, Rika Wahyuni, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian ujian akhir bagi siswa kelas XII.

“Ini adalah rangkaian ujian bagi kelas XII dan menjadi kegiatan terakhir,” ujarnya.

Baca Juga: Beasiswa Pancawaluya Ringankan Beban Siswa SMKN 1 Bandung, Tingkatkan Semangat Belajar

Simulasi Dunia Kerja Nyata

Menurut Rika, pelaksanaan UKK di luar lingkungan sekolah memiliki tujuan strategis.

Salah satunya adalah untuk membiasakan siswa tampil di ruang publik yang sesungguhnya, bukan hanya dalam lingkungan akademik.

“Harapannya, setelah lulus mereka siap terjun ke lapangan dan industri karena sudah terbiasa tampil di luar, seperti di kafe atau acara lainnya,” katanya.

Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya diuji dari aspek teknis musikalitas, tetapi juga dari sisi mental, kepercayaan diri, serta profesionalitas dalam menghadapi audiens secara langsung.

Hal ini dinilai penting mengingat industri musik menuntut kesiapan yang lebih dari sekadar kemampuan bermain alat musik.

Baca Juga: Resmikan Gedung Baru SMKN 1 Arjasari, Kadisdik Jabar Dorong Siswa Bangun Growth Mindset

Uji Kemampuan dan Mental Secara Langsung

Selama pelaksanaan UKK, para siswa dituntut untuk menjaga konsistensi performa dalam waktu yang cukup panjang.

Membawakan puluhan lagu dalam satu sesi bukanlah hal mudah, terutama dengan tekanan tampil di hadapan penonton umum.

Selain itu, format gigs ini juga menguji kemampuan mereka dalam bekerja sama sebagai tim, mengatur setlist, hingga berinteraksi dengan audiens.

Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah yang tidak selalu didapatkan dalam ujian konvensional di sekolah.

Konsep ini sekaligus mencerminkan perubahan pendekatan pendidikan vokasi yang semakin adaptif terhadap kebutuhan industri.

Sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat belajar teori, tetapi juga sebagai ruang simulasi dunia kerja yang sesungguhnya.

Baca Juga: DPRD Jabar Soroti SMK IDN Bogor Tak Urus Izin 4 Tahun, KBM Siswa Diminta Tetap Berjalan

Bekal Karier di Industri Kreatif

Rika menegaskan bahwa pengalaman ini diharapkan menjadi bekal penting bagi para lulusan. Mereka diharapkan memiliki kesiapan yang lebih matang, baik untuk langsung bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun membangun usaha sendiri di bidang musik.

"Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi lulusan, baik untuk bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha di bidang musik dan industri kreatif," pungkasnya.

Langkah inovatif yang dilakukan SMKN 10 Bandung ini dinilai sejalan dengan kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang.

Dengan memberikan pengalaman nyata sejak dini, siswa memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan bersaing di dunia profesional.

Baca Juga: Demi Kepastian Hukum, Pemprov Jabar Tegaskan Pembatalan Izin SMK IDN Bogor Sebagai Langkah Korektif

Dorongan Pendidikan Vokasi Berbasis Industri

Pelaksanaan UKK dengan konsep gigs ini juga menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi dapat dikembangkan lebih kontekstual dan relevan.

Keterlibatan ruang publik seperti kafe sebagai tempat ujian membuka peluang kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku industri.

Pendekatan semacam ini diharapkan dapat terus dikembangkan, tidak hanya di bidang musik, tetapi juga kompetensi lain yang membutuhkan pengalaman praktik langsung.

Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kesiapan mental, pengalaman lapangan, dan pemahaman terhadap dinamika industri yang sesungguhnya.

Baca Juga: Disdik Jabar Gercep Tangani Robohnya Atap SMKN Gunung Putri, 41 Siswa Luka-Luka akan Ditanggung Pemerintah

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.