Jabar

Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih

Didin Wahidin | 17 Mei 2026, 14:54 WIB
Dedi Mulyadi Dorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertema Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake di Museum Pajajaran Bogor.

AKURAT JABAR – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mendorong penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake sebagai langkah memperkuat pemahaman sejarah Sunda secara ilmiah dan komprehensif.

Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertema “Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake” di Museum Pajajaran Bogor, Kamis (14/5/2026).

Menurut Dedi, kajian akademik penting dilakukan agar masyarakat tidak lagi memandang dua benda bersejarah tersebut hanya dari sisi mistis, melainkan memahami nilai sejarah dan kebudayaannya secara utuh.

“Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menilai keberadaan Prasasti Batutulis menjadi bukti kuat bahwa Kota Bogor merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Pakuan Pajajaran pada masa lalu.

Baca Juga: Haru Biru di Purwakarta! Om Zein Lepas Mahkota Binokasih Menuju Karawang

Karena itu, sejarah tersebut harus dijelaskan secara ilmiah agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Selain menjadi dokumentasi sejarah, naskah akademik yang disusun nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam pembangunan tata ruang, tata bangunan, hingga kebijakan pendidikan dan kesehatan di Jawa Barat.

Dengan demikian, pembangunan daerah tetap memiliki keterkaitan dengan identitas budaya Sunda.

Menurut Dedi, Prasasti Batutulis bukan sekadar peninggalan arkeologi biasa. Di balik prasasti itu tersimpan catatan penting mengenai kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Dalam diskusi tersebut, ahli epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai bentuk penghormatan terhadap pendahulunya, yakni Prabu Siliwangi yang memerintah pada 1482-1521.

Baca Juga: Binokasih Mulang Salaka Awali Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Sumedang

Prasasti itu dibuat untuk mengenang jasa Prabu Siliwangi yang dianggap berhasil memperbaiki tata kota dan pembangunan di Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.

Meski Kerajaan Sunda pernah mencapai masa kejayaan, jejak peninggalannya kini tidak banyak ditemukan.

Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor sejarah, termasuk berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa yang kemudian mendominasi wilayah kekuasaan Sunda.

Namun demikian, masih terdapat artefak penting yang diyakini menjadi simbol kemegahan Kerajaan Sunda, yakni Mahkota Binokasih yang hingga kini disimpan secara turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.

Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, Mahkota Binokasih dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda.

Baca Juga: Pemprov Jabar Hadirkan Kirab Budaya di Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-80

Setelah Kerajaan Sunda runtuh, mahkota tersebut diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun, oleh empat utusan Pajajaran.

Dalam kesempatan yang sama, Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, mengungkapkan bahwa Mahkota Binokasih memiliki hubungan erat dengan konsep kosmologi masyarakat Sunda, yakni Tritangtu.

Konsep tersebut menggambarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

Harry menjelaskan bahwa desain Mahkota Binokasih merepresentasikan tiga unsur penting dalam struktur kepemimpinan Kerajaan Sunda, yaitu Rama, Ratu atau Prabu, serta Resi.

Bagian atas mahkota melambangkan Rama, yakni kelompok pemimpin spiritual atau rohaniawan yang menjaga nilai adat, agama, dan kebijaksanaan.

Baca Juga: Pemprov Jabar Resmi Tetapkan 18 Mei sebagai Hari Tatar Sunda, Tonggak Kebangkitan Budaya

Ornamen berbentuk stupa dengan dominasi bunga teratai mencerminkan sosok pemimpin yang bijaksana dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, bagian tengah mahkota melambangkan Ratu atau Prabu sebagai simbol kepemimpinan dalam mengambil keputusan dan menjalankan pemerintahan.

Pada bagian tersebut terdapat ornamen daun segitiga dan Garuda Mungkur yang dimaknai sebagai simbol keberanian serta tanggung jawab pemimpin dalam melindungi rakyatnya.

Adapun bagian bawah mahkota menggambarkan peran Resi, yakni kelompok intelektual dan penasihat kerajaan yang memberikan pertimbangan ilmu pengetahuan serta kebijaksanaan.

Nilai tersebut berkaitan dengan ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati, tokoh penting dalam sejarah Sunda-Galuh pada abad ke-14 yang dikenal memperkuat budaya, spiritualitas, dan tata kehidupan masyarakat Sunda.

Karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi, Mahkota Binokasih disimpan dengan ketat oleh Keraton Sumedang Larang.

Namun dalam momentum Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa berkeliling ke sejumlah daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas sejarah Pajajaran.

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah Kerajaan Sunda sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Tegaskan Falsafah Sunda Bertumpu pada “Rasa” di Dies Natalis UIN Bandung

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.