Jabar

Kampung Adat Bojong Honje, Destinasi Wisata Budaya Purwakarta yang Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

Didin Wahidin | 25 April 2026, 16:05 WIB
Kampung Adat Bojong Honje, Destinasi Wisata Budaya Purwakarta yang Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi
Kampung Adat Bojong Honje di Purwakarta tawarkan wisata budaya autentik berbasis tradisi Sunda.

AKURAT JABAR — Di tengah pesatnya perkembangan sektor pariwisata modern, sebuah kampung adat di wilayah Purwakarta justru tampil dengan pendekatan berbeda. Kampung Adat Bojong Honje yang berada di Desa Cibuntu, Kecamatan Wanayasa, kini mulai mendapat perhatian sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang mempertahankan keaslian tradisi lokal.

Terletak di kawasan perbukitan yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, kampung ini menjadi salah satu desa wisata rintisan yang mengedepankan pelestarian budaya Sunda secara menyeluruh.

Kehidupan masyarakat di sana tidak hanya menjadikan kampung sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menjaga nilai adat secara konsisten, mulai dari arsitektur hingga aktivitas harian.

Salah satu ciri khas utama Kampung Adat Bojong Honje adalah komitmen warganya dalam mempertahankan rumah panggung khas Sunda. Upaya ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, bahkan secara tegas mengingatkan agar tidak ada pembangunan rumah modern di kawasan tersebut.

“Pesan nih ke Pak Kades, tidak boleh ada bangunan modern di sini. Semua rumah harus tetap berbentuk panggung,” ujar Bupati yang akrab disapa Om Zein dalam salah satu kunjungan ke kampung tersebut.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas kampung di tengah arus modernisasi yang kerap mengubah wajah desa tradisional.

Baca Juga: Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat 2026 Angkat Cerita Budaya dari 27 Daerah

Di Bojong Honje, pelestarian budaya bukan sekadar simbol, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Berbeda dengan destinasi wisata konvensional, kampung ini menawarkan konsep wisata partisipatif.

Wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi diajak terlibat langsung dalam aktivitas warga, seperti bertani, membuat kerajinan bambu, hingga mengikuti kegiatan adat.

Pendekatan ini menjadikan Bojong Honje sebagai destinasi wisata edukatif yang relevan, khususnya bagi generasi muda yang ingin memahami kehidupan desa secara autentik.

Selain itu, aktivitas tersebut turut mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.

Produk unggulan warga pun beragam, mulai dari gula aren, wajit, manisan pala, hingga gegeplak.

Tak hanya itu, kerajinan bambu khas setempat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan sebagai oleh-oleh.

Baca Juga: Event Kebudayaan Kesenian Tradisional dan Musik Modern Meriahkan Giri Tirta Kahuripan

Pengunjung juga dapat menikmati permainan tradisional hingga pertunjukan budaya seperti domba rias yang kerap ditampilkan dalam event tertentu.

Daya tarik kampung ini semakin lengkap dengan keindahan alam di sekitarnya. Lanskap perbukitan yang sejuk memberikan pengalaman wisata yang menenangkan, jauh dari hiruk pikuk perkotaan.

Selain itu, terdapat pula destinasi alam seperti Curug Keramat yang sering dikunjungi wisatawan.

Pesona Kampung Adat Bojong Honje juga menarik perhatian sejumlah tokoh, termasuk Verrell Bramasta. Dalam kunjungannya pada Senin (20/4/2026), ia mengungkapkan kesan mendalam terhadap kampung tersebut.

"Jalan yang berliku dan menanjak menuju Kampung Adat Bojong Honje di Purwakarta menjadi pengantar bahwa setiap perjalanan bernilai membutuhkan proses," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kampung tersebut menghadirkan kesejukan alami dan kehangatan masyarakat yang tetap menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.

"Di Bojong Honje, saya melihat bahwa kekuatan sebuah daerah tidak selalu terletak pada gemerlapnya, melainkan pada kemampuannya menjaga nilai, kebersamaan dan jati diri," ungkapnya.

Baca Juga: Membingkai Budaya Sunda: Verrell Bramasta Usung Diplomasi Lewat Budaya

Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap Kampung Bojong Honje terus meningkat.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi, seperti keterbatasan infrastruktur, akses jalan yang belum optimal, serta minimnya fasilitas pendukung wisata.

Selain itu, menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya menjadi isu krusial.

Intervensi modern yang berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis nilai tradisional yang menjadi daya tarik utama kampung ini.

Seiring tren pariwisata yang mengarah pada pengalaman autentik dan berkelanjutan, Kampung Adat Bojong Honje memiliki peluang besar untuk berkembang.

Model wisata berbasis komunitas dinilai menjadi pendekatan yang tepat, di mana masyarakat berperan sebagai pelaku utama sekaligus penerima manfaat.

Dukungan pemerintah serta strategi promosi yang lebih luas juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing destinasi ini.

Baca Juga: Verrell Bramasta Turun ke Babelan, Bantu Korban Banjir dan Dorong Solusi Jangka Panjang

Dengan pengelolaan yang tepat, Bojong Honje berpotensi menjadi pusat pelestarian budaya Sunda yang hidup dan berkembang.

Secara historis, nama Bojong Honje berasal dari kata “bojong” yang berarti kebun dan “honje” yang merujuk pada tanaman kecombrang.

Dahulu, kawasan ini dikenal sebagai hutan honje yang luas sebelum berkembang menjadi desa wisata seperti saat ini.

Kampung Adat Bojong Honje menjadi bukti bahwa kekuatan pariwisata tidak selalu bergantung pada kemewahan, melainkan pada keaslian dan nilai budaya yang ditawarkan.

Di tengah modernisasi, kampung ini hadir sebagai ruang yang menjaga identitas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakatnya.

Baca Juga: Verrell Bramasta Dorong Digitalisasi Pendidikan Purwakarta: Fasilitas Harus Merata

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.