Jawa Barat Targetkan 100 Warisan Budaya Tak Benda Nasional Setiap Tahun

AKURAT JABAR — Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat upaya pelestarian budaya dengan mendorong lebih banyak karya budaya daerah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kekayaan budaya sekaligus meningkatkan daya saing sektor pariwisata berbasis kearifan lokal.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, saat menghadiri kegiatan Press Conference & Talkshow Akulturasa ITB 2026 di Kota Bandung, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Iendra, Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini terus mendorong 27 kabupaten dan kota agar lebih aktif menginventarisasi, mendokumentasikan, serta mengusulkan karya budaya yang dimiliki masing-masing daerah untuk mendapatkan pengakuan nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
Ia menilai masih banyak potensi budaya lokal yang belum tercatat secara resmi, padahal memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas yang kuat bagi masyarakat setempat.
Baca Juga: Lindungi Identitas Lokal, Pemprov Tetapkan 66 Karya Jadi Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat
"Kalau bisa setahun minimal ada 100. Target pusat 1.000 (karya budaya) seluruh Indonesia, kita harus ambil 100 sampai 200. Teman-teman kabupaten/kota akan terus kita dorong," ujar Iendra Sofyan.
Target tersebut menunjukkan keseriusan Jawa Barat dalam memperkuat posisi sebagai salah satu daerah dengan kekayaan budaya terbesar di Indonesia.
Beragam potensi budaya yang berpeluang masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda meliputi tradisi masyarakat, seni pertunjukan, bahasa daerah, kuliner khas, permainan tradisional, hingga berbagai bentuk pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Iendra, proses pengusulan karya budaya membutuhkan dokumen yang lengkap dan bukti autentik yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun historis.
Karena itu, pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kota didorong untuk lebih aktif melakukan pendataan serta penelitian terhadap berbagai kekayaan budaya yang ada di wilayah masing-masing.
Baca Juga: Harta Karun Pesisir, Gombyang Dermayu Indramayu Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Jabar
Selain berfungsi sebagai bentuk pelestarian budaya, pencatatan Warisan Budaya Tak Benda juga dinilai mampu memberikan manfaat ekonomi melalui sektor pariwisata.
Iendra menjelaskan bahwa tren wisata saat ini telah mengalami perubahan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat untuk berlibur atau berfoto, tetapi juga menginginkan pengalaman yang memiliki nilai edukatif, historis, dan budaya.
Menurutnya, unsur cerita atau story telling menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata modern.
"Wisatawan bukan hanya untuk rekreasi saja, tapi juga pengembangan diri seperti pelatihan dan lainnya. Ada juga tujuan wisata yang unik, salah satunya kuliner. Story telling-nya juga penting. Jadi orang tidak hanya foto-foto. Mereka tahu ceritanya, daya tariknya, sampai khasiatnya," jelasnya.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat identitas budaya daerah yang menjadi daya tarik utama sebuah destinasi.
Baca Juga: Lebih dari 20 Event Meriahkan Jawa Barat Sepanjang Juni 2026, dari Budaya hingga Sport Tourism
Berdasarkan data Disparbud Jawa Barat, hingga saat ini terdapat 182 karya budaya asal Jawa Barat yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Jumlah tersebut menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu daerah yang aktif dalam pelestarian budaya di tingkat nasional.
Prestasi membanggakan juga dicatat pada tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, sebanyak 42 karya budaya asal Jawa Barat berhasil ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pengusulan WBTB dari Jawa Barat.
Keberhasilan itu menunjukkan bahwa potensi budaya daerah masih sangat besar dan dapat terus berkembang apabila didukung oleh dokumentasi yang baik serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas budaya, dan masyarakat.
Baca Juga: WBTb Jawa Barat 2025: 42 Karya Budaya Pasundan Raih Pengakuan Nasional
Iendra menegaskan bahwa keberhasilan menambah jumlah Warisan Budaya Tak Benda tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi, tetapi juga membutuhkan peran aktif pemerintah daerah.
"Teman-teman kabupaten dan kota, kita dorong bersama untuk terus menggali potensi budaya di daerah masing-masing. Yang penting proposalnya jelas dan bisa dibuktikan otentik," pungkasnya.
Dengan target minimal 100 Warisan Budaya Tak Benda setiap tahun, Jawa Barat berharap dapat terus memperkuat identitas budaya daerah, menjaga warisan leluhur, sekaligus menjadikan kekayaan budaya sebagai motor penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan di masa depan.
Baca Juga: Binokasih Mulang Salaka Awali Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Sumedang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sabet Penghargaan Disway Top Regional Leader Award 2026, Saepul Bahri Binzein Kokohkan Purwakarta sebagai Magnet Industri Jawa Barat
- 2Menguji Akuntabilitas di Tengah Polemik PCMB Jawa Barat: Solusi Untuk Calon Murid Lebih Utama daripada Pergantian Pimpinan
- 3Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 4BEM Se-Kota Makassar Gelar Dialog Kebangsaan, Dorong Independensi Mahasiswa Menuju Indonesia Emas
- 5Hari Jadi Purwakarta 2026 Dimulai, Om Zein Ajak Warga Jaga Sumber Air Lewat Tradisi Muru Indung Cai
- 6HMI Cabang Purwakarta dan Wamenko Bidang Pangan: Merekonstruksi Ketahanan Pangan Nasional dari Perspektif Kader Mandataris dan Arsitektur Digital
- 7Sambut HUT Ke-57 UIN Sultanah Nahrasiyah, Personel Brimob Aceh Batalyon B Pelopor Gelar Aksi Donor Darah
- 8Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik
- 9Respons Isu Reformasi Jilid II, Forum Sekjen Cipayung Plus: Situasi Berbeda dengan 1998
- 10Sikapi Tantangan Fiskal dan Demokrasi, Forum Sekjen Cipayung Plus Soroti Program MBG hingga Kebebasan Akademik







