Jabar

Dedi Mulyadi Tegaskan Falsafah Sunda Bertumpu pada “Rasa” di Dies Natalis UIN Bandung

Didin Wahidin | 9 April 2026, 17:22 WIB
Dedi Mulyadi Tegaskan Falsafah Sunda Bertumpu pada “Rasa” di Dies Natalis UIN Bandung
Dedi Mulyadi paparkan falsafah Sunda berbasis “rasa” saat Dies Natalis ke-58 UIN Bandung.

AKURAT JABAR - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa inti tertinggi peradaban dalam falsafah Sunda terletak pada “rasa”, bukan pada aturan tertulis maupun konsep yang dibakukan.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berlangsung di Gedung Aula Anwar Musaddad, Kota Bandung, Rabu (8/4/2026).

Dalam pidatonya, Dedi—yang akrab disapa KDM—menguraikan bahwa masyarakat Sunda memiliki pendekatan berbeda dalam memaknai peradaban.

Menurutnya, nilai-nilai luhur tidak selalu dituangkan dalam bentuk tulisan, diskusi formal, maupun kesepakatan yang terdokumentasi.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Siap Dukung FK UIN Bandung, Syaratkan Kuliah Gratis bagi Warga Jabar

Ia menyebut bahwa dalam pandangan Sunda, rasa menjadi puncak dari segala nilai kehidupan. Karena itu, pemahaman terhadap benar dan salah tidak selalu bergantung pada aturan tertulis, melainkan pada kemampuan individu dalam menghayati kehidupan.

“Dalam falsafah Sunda, peradaban tertinggi adalah rasa. Dengan rasa, seseorang dapat memahami mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang harus dihindari,” ujarnya.

Dedi menjelaskan bahwa proses memahami nilai kehidupan dalam budaya Sunda dapat dilakukan melalui pengalaman langsung, seperti melihat, mendengar, dan merasakan.

Melalui pendekatan tersebut, seseorang diyakini mampu menangkap makna kehidupan secara lebih mendalam tanpa harus bergantung pada teori atau regulasi yang kaku.

Baca Juga: KDM Beri Kuliah Umum di Kampus UI, Jabarkan Konsep Pembangunan Berbasis Budaya

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa nilai-nilai tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda yang cenderung hidup selaras dengan alam. Kearifan lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Sebagai contoh, Dedi menyinggung penggunaan rumah panggung serta bahan bangunan dari bambu. Menurutnya, hal tersebut bukan sekadar pilihan teknis, melainkan wujud nyata dari filosofi hidup yang menghargai alam dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga alam dari eksploitasi berlebihan. Dalam budaya Sunda, kata dia, merusak lingkungan merupakan tindakan yang dianggap paling buruk. Hal ini mencerminkan nilai moral yang kuat dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam.

“Dalam pandangan Sunda, manusia yang paling buruk adalah yang merusak alam, termasuk menebang pohon hingga ke akar-akarnya,” tegasnya.

Baca Juga: Rayakan Milad ke-2, UNISMU Purwakarta Targetkan Akselerasi Kampus dan Berikan UNISMU Awards 2026

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap praktik eksploitasi sumber daya alam yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Ia menilai bahwa pembangunan seharusnya tetap mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.

Momentum Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini, lanjut Dedi, menjadi kesempatan penting untuk merefleksikan kembali nilai-nilai budaya lokal dalam konteks pembangunan modern.

Ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk tidak melupakan akar budaya dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Gubernur KDM Bentuk Forum Rektor dan Fasilitasi Dialog Mahasiswa, Wujudkan Pemerintahan Inklusif di Jawa Barat

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Integrasi antara ilmu pengetahuan modern dan nilai budaya diyakini dapat menghasilkan peradaban yang lebih seimbang.

Dedi juga menekankan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan dimensi budaya dan moral.

Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Bakal Libatkan Mahasiswa Teknik Sipil Awasi Pembangunan Infrastruktur di Jawa Barat

Dengan demikian, hasil pembangunan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Melalui pesan tersebut, ia berharap nilai-nilai falsafah Sunda yang menempatkan rasa sebagai landasan utama dapat terus dijaga dan diwariskan.

Hal ini dinilai penting untuk membentuk karakter masyarakat yang bijaksana, peduli lingkungan, serta mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.

Baca Juga: Gubernur KDM Kunjungi Unisba Pasca Insiden Gas Air Mata, Siap Fasilitasi Dialog Mahasiswa dan DPRD Jabar

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.