Jabar

Konflik Timur Tengah Memanas, Pemdaprov Jabar Siapkan Strategi Penyelamatan Ekspor Jawa Barat 2026

Didin Wahidin | 25 Maret 2026, 20:29 WIB
Konflik Timur Tengah Memanas, Pemdaprov Jabar Siapkan Strategi Penyelamatan Ekspor Jawa Barat 2026
Antisipasi dampak konflik Iran-Israel, Pemdaprov Jabar siapkan strategi khusus selamatkan Ekspor Jawa Barat 2026.

AKURAT JABAR – Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat bergerak cepat mengambil langkah antisipatif guna melindungi sektor perdagangan dari dampak konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan performa Ekspor Jawa Barat 2026 tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengungkapkan bahwa salah satu strategi andalan adalah menjembatani para pelaku usaha lokal dengan pembeli potensial di pasar nontradisional.

Langkah ini dilakukan melalui kegiatan pitching business secara daring yang melibatkan Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Faktanya, diversifikasi pasar tujuan menjadi harga mati agar komoditas unggulan Jawa Barat tidak terjebak dalam krisis logistik di wilayah konflik.

Baca Juga: Harga Bahan Pokok Jawa Barat 2026: Stok Bawang dan Daging Ayam Melimpah

Diversifikasi Pasar dan Optimalisasi Perjanjian Internasional

Oleh sebab itu, Pemdaprov Jabar mendorong pelaku usaha untuk memaksimalkan 14 Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) yang tersebar di kabupaten/kota.

Fasilitas pembuatan SKA atau Certificate of Origin (COO) ini sangat krusial agar produk lokal bisa menikmati skema preferensi tarif di negara tujuan baru.

Selanjutnya, penguatan sistem informasi intelijen pasar juga menjadi prioritas. Informasi mengenai perubahan regulasi global akan disalurkan secara cepat kepada pengusaha agar daya saing produk Jabar tetap kompetitif.

“Kami mendorong pelaku usaha melakukan diversifikasi pasar agar tidak terkena dampak negatif dari konflik tersebut. Keamanan jalur perdagangan dan kepastian regulasi adalah kunci,” ujar Nining Yuliastiani, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: Bidik Pasar Global, Disperindag Jabar Akselerasi Ekspor Kopi, Teh, dan Kakao Melalui WIITEX 2026

Dampak Nyata: Biaya Logistik Membengkak dan Stok Menumpuk

Menariknya, Disperindag Jabar telah menerima laporan dari sejumlah eksportir yang mulai merasakan dampak signifikan.

Masalah utama yang muncul adalah lonjakan biaya logistik serta tantangan ketersediaan bahan baku akibat durasi pengiriman yang jauh lebih panjang dari biasanya.

Kondisi di Lapangan saat ini:

  • Risiko Tinggi: Pihak asuransi enggan memberikan proteksi untuk pengiriman ke wilayah Timur Tengah.

  • Penangguhan Kiriman: Pembeli di luar negeri meminta penundaan, mengakibatkan stok menumpuk di gudang pabrik.

  • Kasus TPT: Sebuah perusahaan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) melaporkan penundaan pengiriman hingga 10 kontainer.

Baca Juga: Sambut Wajib Sertifikasi Halal Oktober 2026, Disperindag Jabar Ajak Pelaku Usaha Tingkatkan Daya Saing

Pelatihan ECP dan Prospek Pesat: Perkuat Kapasitas Eksportir

Selain itu, Pemdaprov Jabar berkomitmen memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui Export Coaching Program (ECP) 2026. Program ini bekerja sama dengan PPEJP Kementerian Perdagangan untuk mencetak eksportir tangguh yang mampu membaca peluang di tengah krisis.

Penting untuk dicatat, program pendampingan bertajuk Prospek Pesat juga akan terus dilanjutkan. Program ini fokus pada pengembangan produk lokal agar memenuhi standar kualitas internasional dan memiliki nilai tawar tinggi di pasar global.

Baca Juga: Airlangga dan Dedi Mulyadi Kompak Dorong Ekspor Produk Dalam Negeri, Pelabuhan Patimban Jadi Sorotan

Koordinasi Intensif dan Relaksasi Kawasan Berikat

Akhirnya, Disperindag Jabar tengah mengkaji masukan dari Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat (APKB). Pengusaha meminta fleksibilitas agar hasil produksi Kawasan Berikat dapat dijual ke pasar domestik guna membantu industri yang saat ini kesulitan mendapatkan bahan baku impor.

Langkah Strategis Lanjutan:

  1. Sinergi Pusat-Daerah: Koordinasi rutin bersama Kemendag dan Kemenperin.

  2. Monitoring Geopolitik: Pemantauan situasi global secara real-time untuk mitigasi risiko ekonomi.

  3. Target Ekonomi: Memastikan target pertumbuhan ekonomi Jabar tetap on track sesuai rencana pembangunan.

Baca Juga: Konflik Iran-AS Memanas: Pemprov Jabar Pantau 3.960 Warga di Timur Tengah, Hotline Darurat Resmi Dibuka!

Penutup: Optimisme di Tengah Ketidakpastian

Dengan demikian, Pemdaprov Jabar optimis bahwa dengan kolaborasi yang kuat, sektor perdagangan Tanah Pasundan mampu melewati badai geopolitik ini.

Dukungan pemerintah melalui regulasi dan pelatihan diharapkan menjadi benteng pertahanan bagi para pelaku usaha ekspor di tahun 2026.

Baca Juga: Guncang Pasar Modal, Investor Alihkan Dana ke Aset Aman Imbas Konflik Panas Antara Iran dan Israel

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.