Dampak Ketergantungan Gawai: Rhenald Kasali dan Disdik Jabar Ajak Siswa Kembali Budayakan Menulis Tangan

AKURAT JABAR – Akademisi ternama Rhenald Kasali menyoroti fenomena menurunnya kemampuan dasar siswa akibat ketergantungan berlebihan pada perangkat digital.
Menurutnya, penggunaan gawai yang tidak terkontrol mulai menggerus keterampilan fundamental, terutama kemampuan kognitif yang berkaitan dengan koordinasi tangan dan otak.
Ia mengungkapkan bahwa sejumlah negara maju kini mulai memutar haluan dengan kembali menekankan kebiasaan menulis tangan dan penggunaan buku cetak.
Di Inggris, misalnya, siswa sekolah dasar kini wajib menulis tangan setiap hari sebagai bagian dari aktivitas refleksi dan penguatan pola pikir.
“Temuan di bidang neurologi menunjukkan bahwa anak yang menulis dengan tangan memiliki perkembangan kognitif yang jauh lebih baik daripada mereka yang sepenuhnya bergantung pada perangkat digital,” jelas Rhenald, Rabu (11/3/2026).
Tren Global: Skandinavia Kembali ke Buku Cetak
Faktanya, tren kembali ke metode konvensional juga mulai merambah negara-negara Skandinavia.
Para pendidik di sana menyatakan kekhawatiran atas melemahnya daya ingat generasi muda yang terlalu cepat beralih ke teknologi digital.
Oleh karena itu, penggunaan buku cetak kembali mendapat ruang utama dalam proses pembelajaran.
Rhenald menceritakan pengalamannya saat mengadakan pelatihan di mana mayoritas peserta mengaku sudah tidak terbiasa menulis tangan pada formulir fisik dan lebih memilih versi digital.
“Ini menjadi sinyal bahwa kemampuan dasar manusia mulai tergantikan oleh kebiasaan menggunakan gawai secara instan,” ungkapnya prihatin.
Disdik Jabar: Teknologi dan Literasi Dasar Harus Seimbang
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa transformasi digital dalam dunia pendidikan memang sebuah keniscayaan.
Namun, ia menekankan pentingnya menulis tangan siswa 2026 sebagai pondasi berpikir reflektif yang tidak boleh hilang.
Selanjutnya, Purwanto menilai bahwa menulis tangan memiliki peran vital dalam melatih konsentrasi, ketajaman daya ingat, serta kemampuan siswa dalam mengolah gagasan secara terstruktur.
“Sekolah harus bijak memanfaatkan teknologi. Kami mendorong setiap satuan pendidikan untuk tetap memberikan ruang bagi aktivitas literasi yang melibatkan tulisan tangan,” tegas Purwanto.
Baca Juga: Kadisdik Jabar Purwanto Buka Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H: Rawat Bumi dengan Pancaniti
Membangun Fondasi Berpikir yang Kuat
Menariknya, Disdik Jabar berupaya agar siswa tidak hanya mahir mengoperasikan teknologi terkini, tetapi juga memiliki kemampuan intelektual yang kokoh.
Keterampilan dasar seperti membaca buku fisik dan menulis tangan dianggap sebagai "jangkar" agar siswa tetap fokus di tengah banjir informasi digital.
Akhirnya, sinergi antara pemanfaatan teknologi dan penguatan literasi dasar diharapkan mampu mencetak generasi yang cerdas sekaligus memiliki kedalaman berpikir.
Dengan demikian, keterampilan fundamental tetap terjaga sebagai fondasi utama dalam proses belajar mengajar di Jawa Barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










