Lestarikan Tradisi, Gubernur KDM Sulap Halaman Gedung Sate Jadi Panggung Festival Dulag Jawa Barat 2026

AKURAT JABAR – Gema takbir bersahut-sahutan dengan dentuman bedug yang membahana di sepanjang Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menggelar Festival Dulag Jawa Barat 2026 di depan Gedung Sate pada Jumat malam (20/3/2026), sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi malam takbiran yang mulai tergerus zaman.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa ajang ini merupakan tahun kedua pelaksanaan di era kepemimpinannya.
Langkah ini menjadi solusi konkret untuk melestarikan budaya menabuh bedug yang kini mulai langka, bahkan di wilayah pedesaan sekalipun.
“Ini tahun kedua kami laksanakan. Tujuannya jelas untuk menghidupkan kembali tradisi, karena jangankan di kota, di desa saja sudah hampir tidak ada. Banyak masjid saat ini yang sudah tidak memiliki bedug,” ujar pria yang akrab disapa KDM ini saat ditemui di lokasi acara.
Strategi Cerdas Cegah Macet dan Konflik Malam Takbiran
Faktanya, penyelenggaraan festival ini bukan sekadar panggung hiburan semata. Gubernur KDM merancang acara ini sebagai instrumen untuk menciptakan kekondusifan suasana malam takbir agar tetap tertib dan terkendali.
Oleh sebab itu, pemerintah mengalihkan antusiasme warga dari kegiatan takbir keliling yang berisiko memicu kemacetan parah serta potensi konflik antarkelompok.
Dengan adanya festival terpusat, masyarakat mendapatkan wadah berekspresi yang jauh lebih aman dan terorganisir.
“Jadi, daripada melakukan takbir keliling yang menimbulkan kemacetan dan kadang melahirkan konflik, kami hadirkan hiburan tradisi ini sebagai gantinya,” tegas Dedi Mulyadi.
Totalitas 27 Kota/Kabupaten dan Hiasan Ornamen Megah
Selanjutnya, kemeriahan Festival Dulag Jawa Barat 2026 tahun ini tampak lebih masif dibandingkan tahun sebelumnya.
Ribuan masyarakat dari berbagai kelompok usia memadati lokasi sejak lepas waktu Isya untuk menikmati kreativitas para peserta.
Menariknya, para peserta yang berasal dari 27 kota/kabupaten se-Jawa Barat serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tampil sangat totalitas.
Mereka menghias bedug dan area lapak dengan berbagai ornamen indah untuk menarik perhatian dewan juri maupun pengunjung.
Atmosfer di Gedung Sate:
Visual Memukau: Bedug dihias dengan ukiran tradisional dan lampu dekoratif.
Interaksi Warga: Pengunjung antusias melakukan swafoto berlatar kemeriahan acara.
Kehadiran Pemimpin: Gubernur KDM tampak berkeliling melihat langsung aksi para penggebuk bedug.
Respon Positif Warga: Hiburan Keluarga yang Langka
Selain itu, masyarakat menyambut baik inisiatif Pemprov Jabar dalam menyediakan ruang publik yang positif saat malam takbiran.
Firman (39), salah satu pengunjung asal Bandung, mengaku sengaja memboyong keluarganya demi memperlihatkan tradisi bedug kepada anak-anaknya.
“Ini hiburan yang sangat bagus bagi keluarga. Tradisi seperti ini sudah jarang kita temukan di lingkungan sekitar,” ucap Firman yang berharap agenda ini menjadi kalender rutin tahunan.
Baca Juga: Urai Kemacetan Jalur Pantura, Gubernur KDM Beri Kompensasi Penyapu Koin Jembatan Sewo
Simbol Kemenangan dan Kelestarian Budaya
Akhirnya, gelaran Festival Dulag Jawa Barat 2026 sukses menjadi penutup Ramadan yang manis di tanah Pasundan.
Dengan menyatukan unsur religi dan budaya, Pemprov Jabar berhasil membuktikan bahwa malam takbiran bisa dirayakan dengan cara yang elegan, tertib, namun tetap meriah.
Dengan demikian, tradisi menabuh bedug diharapkan kembali tumbuh di hati generasi muda sebagai identitas budaya Jawa Barat yang tak lekang oleh waktu.
Baca Juga: Festival Dulag Istimewa: Merawat Tradisi Melalui Harmoni untuk Jabar Istimewa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










