Jabar

Duka di Kebun Binatang! Kematian Anak Harimau Bandung 2026 Akibat Virus Ganas Picu Evaluasi Total Biosekuriti

Didin Wahidin | 27 Maret 2026, 07:45 WIB
Duka di Kebun Binatang! Kematian Anak Harimau Bandung 2026 Akibat Virus Ganas Picu Evaluasi Total Biosekuriti
Dua ekor anak harimau mati akibat virus Panleukopenia.

AKURAT JABAR – Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa di Jawa Barat. Dua ekor anak harimau berusia 8 bulan dilaporkan mati mendadak setelah terinfeksi virus mematikan Panleukopenia. Insiden Kematian Anak Harimau Bandung 2026 ini memicu perhatian serius dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku sangat terpukul atas kejadian yang menimpa satwa langka tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan para ahli, kedua anakan kucing besar itu terinfeksi virus yang berkembang sangat ganas dan bersifat akut dalam sepekan terakhir.

Faktanya, meskipun Panleukopenia adalah virus yang umum ditemukan pada keluarga kucing, tingkat fatalitasnya menjadi sangat tinggi ketika menyerang individu muda dengan sistem imun yang belum sempurna.

Baca Juga: Kebun Binatang Bandung Tetap Tutup Pasca Lebaran, Ini Alasannya

Perketat Biosekuriti: Farhan Instruksikan Pembenahan Total

Oleh sebab itu, Wali Kota Farhan langsung menginstruksikan penguatan sistem biosekuriti di seluruh kawasan Kebun Binatang Bandung.

Ia menegaskan bahwa aspek kesehatan dan keamanan satwa merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar lagi.

Selanjutnya, Pemkot Bandung berencana menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Kementerian Kehutanan untuk melakukan audit menyeluruh.

Evaluasi ini mencakup tata kelola lembaga konservasi agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

“Kejadian ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting. Kasus ini harus menjadi titik balik bagi kita untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” tegas Muhammad Farhan saat meninjau lokasi, Kamis (26/3/2026).

Baca Juga: Izin Kementerian Belum Turun, Wali Kota Muhammad Farhan Pastikan Kebun Binatang Bandung Belum Bisa Buka Saat Lebaran 2026

Target Satu Bulan: Penunjukan Mitra Pengelola Berbadan Hukum

Menariknya, di tengah suasana duka ini, Pemkot Bandung menetapkan target ambisius untuk menuntaskan pembenahan tata kelola dalam waktu satu bulan ke depan.

Pemerintah akan menunjuk lembaga konservasi berbadan hukum sebagai mitra resmi dalam mengelola Kebun Binatang Bandung secara profesional.

Poin Utama Transformasi Kebun Binatang:

  1. Audit Biosekuriti: Peningkatan keamanan di perimeter luar dan dalam kandang.

  2. Manajemen Kesehatan: Pengetatan standar prosedur vaksinasi dan nutrisi satwa.

  3. Legalitas Pengelolaan: Transisi manajemen kepada lembaga yang memiliki kompetensi konservasi tinggi.

Baca Juga: Hati-hati Kelola Aset, Pemkot Kaji Masa Depan Kebun Binatang Bandung secara Mendalam

Optimisme Penangkaran: Rekam Jejak Sukses Si "Sahrulkan"

Selain itu, Farhan mengingatkan masyarakat bahwa Kebun Binatang Bandung sebenarnya memiliki rekam jejak reproduksi yang sangat baik.

Sebagai contoh, keberhasilan kelahiran harimau betina bernama Donggala pada 2019 silam merupakan hasil penangkaran dari induk pejantan yang sama, yakni Sahrulkan.

Penting untuk dicatat, program penangkaran satwa endemik Jawa Barat akan terus dikembangkan hingga tahap pelepasliaran.

Farhan memastikan bahwa prosedur perawatan satwa selama masa transisi pengelolaan pemerintah telah dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita punya kemampuan dalam penangkaran. Kehilangan dua anakan ini memang pukulan berat, namun menjadi momentum bagi kita untuk berbenah dan meningkatkan animal welfare secara signifikan,” tambahnya.

Baca Juga: Sinergi dengan Pemprov Jabar, Wali Kota Muhammad Farhan Jamin Kebun Binatang Bandung Tetap Jadi RTH Publik

Penutup: Komitmen Menjaga Keberlangsungan Satwa Langka

Akhirnya, Pemkot Bandung berkomitmen agar fungsi konservasi dan edukasi kebun binatang tetap berjalan beriringan.

Perbaikan sistem biosekuriti diharapkan mampu memitigasi risiko serangan virus ganas di masa mendatang sehingga koleksi satwa langka tetap terjaga kelestariannya.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan tetap mendukung upaya pemerintah dalam menyelamatkan keanekaragaman hayati daerah melalui pengelolaan kebun binatang yang lebih modern dan akuntabel.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.