Internalisasi Nilai Pancawaluya, Sekdisdik Jabar Deden Saepul Hidayat Ajak Siswa Jadikan Kebersihan Cermin Iman

AKURAT JABAR – Sekdisdik Jabar Deden Saepul Hidayat menegaskan bahwa ibadah Ramadhan harus berdampak nyata pada perilaku menjaga lingkungan.
Hal tersebut ia sampaikan saat membuka Pesantren Ekologi bertajuk "Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya" di Aula UPTD Tikomdik Disdik Jabar, Selasa (24/2/2026).
Oleh karena itu, setiap peserta didik di Jawa Barat didorong untuk mengimplementasikan nilai ketakwaan melalui aksi nyata.
Sebab, menurut Deden, indikator kualitas sekolah dan keberhasilan pendidikan karakter dapat dilihat dari sejauh mana kebersihan lingkungannya terjaga.
Baca Juga: Kadisdik Jabar Purwanto Buka Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H: Rawat Bumi dengan Pancaniti
Kebersihan WC Jadi Indikator Kualitas Sekolah
Berdasarkan arahan Sekdisdik, sekolah memegang peranan vital dalam membentuk karakter ekologis sejak dini.
Ia menekankan bahwa hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menyisakan makanan adalah bagian dari iman.
“Takwa bukan hanya ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga bagaimana kita mengelola sampah. Kalau ingin melihat kualitas sebuah sekolah, lihatlah kebersihan lingkungannya, termasuk WC-nya,” tegas Deden Saepul Hidayat.
Maka dari itu, nilai-nilai ini diharapkan tidak hanya berhenti saat Ramadhan usai, melainkan menjadi karakter permanen yang dibawa siswa ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Baca Juga: Padukan Seni dan Ekologi, Jampang Creative Camp 2 Ubah Pantai Minajaya Jadi Ruang Belajar Terbuka
Tiga Siklus Strategis Pesantren Ekologi
Dalam kesempatan yang sama, Kabid PKLK Disdik Jabar, Ai Nurhasan menjelaskan bahwa program ini merupakan respons atas meningkatnya krisis lingkungan akibat perilaku manusia.
Pasalnya, edukasi ekologi menjadi solusi jangka panjang untuk menumbuhkan generasi yang peduli alam.
Hasilnya, Pesantren Ekologi tahun ini akan dilaksanakan dalam tiga tahapan mingguan yang sistematis:
-
Siklus Pertama: Fokus pada edukasi dan kepedulian lingkungan.
-
Siklus Kedua: Penguatan kampanye hemat energi di lingkungan sekolah.
-
Siklus Ketiga: Gerakan penghijauan massal sekaligus penutupan kegiatan.
Baca Juga: Kadisdik Jabar Integrasikan Konservasi Bambu ke Kurikulum, Dukung Visi Ekologi KDM
Inklusif dan Menampilkan Aksi Teatrikal Memukau
Lebih lanjut, pembukaan acara yang diikuti secara virtual oleh seluruh SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Barat ini dimeriahkan dengan aksi teatrikal dari siswa SMKN 10 Bandung.
Penampilan tersebut sukses memukau hadirin dengan pesan-pesan penyelamatan bumi yang mendalam.
Sebagai penutup, Ai Nurhasan memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Pesantren Ekologi bersifat inklusif dan fleksibel.
Dengan demikian, program ini dipastikan tidak akan memberatkan pembiayaan orang tua namun tetap memberikan dampak signifikan bagi pembentukan jati diri siswa yang "Waluya Rahmatan Lil Alamin".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










