Jabar

Wali Kota Muhammad Farhan Ungkap Penyebab Kematian Anak Harimau Bandung Akibat Infeksi Virus Ganas

Didin Wahidin | 28 Maret 2026, 18:37 WIB
Wali Kota Muhammad Farhan Ungkap Penyebab Kematian Anak Harimau Bandung Akibat Infeksi Virus Ganas
Wali Kota Muhammad Farhan konfirmasi serangan virus ganas dan siapkan seleksi ketat mitra pengelola.

AKURAT JABAR – Kasus Kematian Anak Harimau Bandung kini memasuki babak baru setelah hasil analisis medis resmi keluar. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengonfirmasi bahwa kedua anakan kucing besar berusia delapan bulan tersebut mati akibat serangan virus mematikan.

Berdasarkan hasil uji cepat (rapid test) dan analisis sampel feses oleh tim ahli, kedua satwa tersebut positif terjangkit virus Panleukopenia dan menunjukkan gejala klinis akut layaknya infeksi distemper. Penyakit ini menyerang sistem pencernaan dan imunitas satwa muda dengan sangat agresif.

Faktanya, serangan virus ini memicu gejala berat seperti muntah, diare, hingga feses berdarah yang membuat kondisi fisik satwa menurun drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Sebut Akibat Konflik Pengelolaan, Ono Surono Soroti Tajam Kematian Anak Harimau di Bandung Zoo

Biosekuriti Jadi Prioritas: Pemkot Bandung Siapkan Seleksi Mitra 20 Tahun

Oleh sebab itu, Wali Kota Farhan menjadikan insiden ini sebagai momentum evaluasi total terhadap sistem biosekuriti di Kebun Binatang Bandung.

Pemerintah Kota kini tengah menunggu laporan resmi tertulis sebagai dasar untuk memulai proses seleksi mitra pengelola lembaga konservasi berbadan hukum.

Selanjutnya, Farhan menegaskan bahwa kerja sama pengelolaan ini akan berlangsung untuk jangka panjang, yakni hingga 20 tahun ke depan.

Karena itu, proses seleksi akan dilakukan secara terbuka, transparan, dan sangat ketat untuk mendapatkan mitra yang benar-benar profesional.

“Peristiwa ini menjadi momentum evaluasi penting dalam meningkatkan standar pengelolaan, khususnya dalam aspek biosekuriti agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung, Jumat (27/3/2026).

Baca Juga: Duka di Kebun Binatang! Kematian Anak Harimau Bandung 2026 Akibat Virus Ganas Picu Evaluasi Total Biosekuriti

Kronologi Penanganan Medis: Tim Lintas Instansi Sudah Maksimal

Menariknya, upaya penyelamatan kedua anak harimau ini melibatkan kolaborasi masif dari BBKSDA Jawa Barat, Rumah Sakit Hewan Cikole, hingga DKPP Kota Bandung. Humas BBKSDA Jabar, Eri, menjelaskan bahwa kedua satwa sempat menjalani isolasi ketat di kandang karantina begitu gejala muncul.

Catatan Tim Medis:

  • Masa Kritis: Peluang hidup satwa biasanya meningkat jika mampu bertahan lebih dari 48-72 jam setelah gejala awal.

  • Kondisi Terakhir: Salah satu anakan sempat menunjukkan perbaikan, namun kondisinya kembali anjlok saat pergantian jadwal piket petugas.

  • Tindakan Antisipasi: Pihak kebun binatang telah melakukan disinfeksi total pada seluruh area kandang guna memutus rantai penyebaran virus.

Baca Juga: Kebun Binatang Bandung Tetap Tutup Pasca Lebaran, Ini Alasannya

Menjaga "Derenten" sebagai Warisan Budaya Masyarakat Bandung

Selain itu, Farhan menekankan bahwa Kebun Binatang Bandung atau yang akrab disebut "Derenten" (dari dialek Sunda Direntuin) bukan sekadar tempat wisata. Lokasi ini memiliki nilai historis dan budaya yang sangat lekat dengan tradisi Lebaran masyarakat Jawa Barat.

Tiga Alasan Utama Mempertahankan Kebun Binatang:

  1. Nilai Historis: Menjaga warisan budaya dan tradisi turun-temurun masyarakat.

  2. Penghargaan Warisan: Menghormati kontribusi keluarga Bratakusumah dalam membangun lembaga konservasi tersebut.

  3. Kesejahteraan Pegawai: Menjamin keberlanjutan hidup para perawat satwa yang telah berdedikasi selama puluhan tahun.

Baca Juga: Izin Kementerian Belum Turun, Wali Kota Muhammad Farhan Pastikan Kebun Binatang Bandung Belum Bisa Buka Saat Lebaran 2026

Fokus Konservasi: Dari Macan Tutul Jawa hingga Badak Jawa

Penting untuk dicatat, ke depan, kebun binatang ini akan diarahkan untuk lebih fokus pada pelestarian satwa endemik Jawa Barat seperti surili, owa, hingga macan tutul Jawa. Farhan bahkan membuka peluang kerja sama dalam upaya pelestarian badak Jawa yang populasinya kian terbatas.

Akhirnya, meski saat ini Kebun Binatang Bandung masih ditutup sementara untuk umum demi keamanan biosekuriti, Farhan memohon maaf dan meminta dukungan moral dari masyarakat bagi para petugas yang terus bekerja di lapangan.

Dengan demikian, transparansi dalam menangani kasus Kematian Anak Harimau Bandung diharapkan dapat membangun kembali kepercayaan publik terhadap pengelolaan lembaga konservasi kebanggaan warga Bandung ini.

Baca Juga: Pemerintah Amankan Aset dan Selamatkan Satwa Kebun Binatang Bandung

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.