Sebut Akibat Konflik Pengelolaan, Ono Surono Soroti Tajam Kematian Anak Harimau di Bandung Zoo

AKURAT JABAR – Insiden tragis yang menimpa satwa langka di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) memancing reaksi keras dari tingkat legislatif.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Ono Surono, menyampaikan keprihatinan mendalam atas Kematian Anak Harimau Bandung Zoo 2026 bernama Huru dan Hara yang terjadi pada Selasa (24/3/2026).
Kedua anak harimau Benggala tersebut dilaporkan mati setelah terinfeksi virus Panleukopenia. Namun, Ono menilai kematian ini bukan sekadar insiden kesehatan biasa, melainkan dampak nyata dari konflik pengelolaan yang tidak kunjung usai serta minimnya kepedulian pemerintah.
Faktanya, Ono menyebut tragedi ini sudah diprediksi jauh-jauh hari lantaran adanya penurunan kualitas perawatan dan pakan hewan di lokasi tersebut.
Kritik untuk Wali Kota Bandung dan Kementerian Kehutanan
Oleh sebab itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat ini memberikan catatan merah bagi Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Ono menganggap Wali Kota seharusnya mampu mengantisipasi dan menjamin kesejahteraan seluruh hewan, terutama terkait pemenuhan gizi dan standar kesehatan satwa.
Selanjutnya, Ono juga menyentil peran Kementerian Kehutanan yang dinilai tidak maksimal dalam menjalankan fungsi pengawasan.
Ia menyoroti status yayasan pengelola yang izinnya telah dicabut namun masih terlibat dalam operasional mandiri dengan sumber pendanaan yang terbatas.
“Kematian kedua anak harimau ini bukan sekadar insiden biasa. Ini bukti kurangnya kepedulian pemerintah, baik pusat maupun daerah, terhadap standar pemeliharaan satwa,” cetus Ono Surono, Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Kebun Binatang Bandung Tetap Tutup Pasca Lebaran, Ini Alasannya
Tawaran Bantuan dari Megawati Soekarnoputri yang Terabaikan
Menariknya, Ono mengungkapkan bahwa dirinya telah berupaya melakukan langkah penyelamatan sejak Agustus 2025.
Saat itu, ia membawa pesan khusus dari Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Soekarnoputri, untuk melakukan kerja sama perawatan atau pemindahan hewan ke Kebun Binatang Ragunan atau Surabaya.
Kronologi Upaya Penyelamatan:
Agustus 2025: Ono bertemu Wali Kota Bandung membawa tawaran kerja sama penyelamatan satwa.
Respons Pemkot: Wali Kota Bandung dilaporkan tidak merespons tawaran tersebut secara serius dan memilih menangani sendiri.
Maret 2026: Terjadi kematian dua anak harimau, Huru dan Hara, yang membuktikan kegagalan sistem perawatan mandiri.
Desakan Evakuasi Satwa dan Standar Perawatan Ketat
Selain itu, Ono mendesak Kementerian terkait dan Pemkot Bandung untuk segera melakukan koordinasi secara darurat.
Jika pemerintah tidak sanggup menjamin kesejahteraan satwa, ia meminta agar seluruh hewan langka di Bandung Zoo segera dipindahkan ke lembaga konservasi lain yang lebih mumpuni.
Penting untuk dicatat, Huru dan Hara merupakan anakan dari pasangan harimau Shah Rukh Khan dan Jelita yang lahir pada 12 Juli 2025. Kehilangan dua nyawa satwa langka ini menjadi pukulan telak bagi reputasi konservasi di Jawa Barat.
“Jangan sampai kejadian ini terulang. Bila pemerintah tidak siap memastikan kesejahteraan hewan, maka masyarakat termasuk kami siap melakukannya secara langsung,” tegasnya.
Baca Juga: Pemerintah Amankan Aset dan Selamatkan Satwa Kebun Binatang Bandung
Menanti Langkah Nyata Pemkot Bandung
Akhirnya, publik kini menanti langkah nyata dari Wali Kota Muhammad Farhan pasca-kritik pedas dari DPRD Jabar tersebut.
Ono juga menyebut bahwa perbaikan standar makanan, kebersihan kandang, dan pemeriksaan medis rutin harus menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi satwa yang menjadi korban akibat ego birokrasi.
Dengan demikian, transparansi pengelolaan Bandung Zoo kini menjadi tuntutan utama demi menyelamatkan sisa koleksi satwa langka yang masih bertahan di tengah konflik.
Baca Juga: Hati-hati Kelola Aset, Pemkot Kaji Masa Depan Kebun Binatang Bandung secara Mendalam
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










