Revolusi Transportasi Masal, 232 Halte BRT Bandung Raya 2026 Mulai Dibangun di Titik Strategis

AKURAT JABAR – Transformasi transportasi publik di wilayah Cekungan Bandung memasuki babak baru. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mengonfirmasi bahwa pengerjaan fisik ratusan halte untuk layanan Bus Rapid Transit (BRT) kini telah dimulai di sejumlah titik krusial.
Secara total, proyek strategis Kementerian Perhubungan ini akan membangun 232 titik halte yang tersebar di wilayah Kota Bandung.
Langkah ini merupakan bagian dari pengembangan layanan BRT Bandung Raya 2026 yang bertujuan mengurai kemacetan kronis di ibu kota Jawa Barat dan sekitarnya.
Baca Juga: Geram Proyek Galian Kabel Semrawut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan Tuntut Transparansi Lini Masa
Rincian Sebaran dan Jenis Halte di Kota Bandung
Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dishub Kota Bandung, Ferlian Hadi, menjelaskan bahwa total terdapat 256 titik halte off-corridor di kawasan Cekungan Bandung.
Menariknya, mayoritas pembangunan atau sebanyak 232 titik berada di Kota Bandung, sementara 24 titik sisanya berlokasi di Kota Cimahi.
"Pembangunan ini mencakup 22 kecamatan di Kota Bandung. Kami membagi fasilitas ini ke dalam tiga spesifikasi teknis yang berbeda sesuai dengan kebutuhan lahan dan volume penumpang," ujar Ferlian, Minggu (8/3/2026).
Tiga Jenis Halte yang Akan Hadir:
Bus Pole (172 titik): Penanda halte berbentuk tiang minimalis.
Small Shelter (80 titik): Halte berukuran kecil untuk area pemukiman.
Big Shelter (4 titik): Fasilitas utama yang berlokasi di Stasiun Hall, Jalan Merdeka, Summarecon Mall Bandung, dan Stasiun Kiaracondong.
Perbedaan Sistem On-Corridor dan Off-Corridor
Selain halte off-corridor yang mencampur arus lalu lintas (mixed traffic), proyek ini juga menghadirkan 37 halte on-corridor.
Berbeda dengan halte biasa, sistem on-corridor akan menggunakan jalur khusus yang terpisah oleh separator, serupa dengan sistem Busway di Jakarta.
"Halte on-corridor memiliki jalur eksklusif. Sedangkan untuk off-corridor, bus akan tetap melintas bersama kendaraan pribadi lainnya," jelas Ferlian lebih mendalam.
Hingga saat ini, pengerjaan fisik telah menyentuh 27 titik lokasi awal.
Beberapa kawasan yang mulai mengalami pembongkaran lahan antara lain Jalan Soekarno-Hatta, kawasan Stadion GBLA, Jalan Ramdan, BKR, Wastukancana, Dago, hingga Jalan Merdeka.
Integrasi Angkot dan Target Rampung 2026
Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung memberikan dukungan penuh melalui kemudahan perizinan dan penyediaan lahan.
Sesuai dengan jadwal dari Kementerian Perhubungan, seluruh infrastruktur BRT Bandung Raya 2026 ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada akhir tahun 2026.
Selanjutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengambil alih pengelolaan BRT dengan menunjuk PT Jasa Sarana sebagai operator sementara.
Tentu saja, keberadaan BRT ini tidak akan mematikan angkutan kota (angkot).
Justru, angkot akan bertransformasi menjadi feeder atau angkutan pengumpan yang membawa penumpang dari pelosok wilayah menuju koridor utama BRT.
Layanan Aduan Masyarakat
Selama proses konstruksi berlangsung, Dishub mengimbau pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan saat melintasi area proyek.
Selain itu, masyarakat dapat berpartisipasi memberikan masukan atau melaporkan kendala pembangunan melalui nomor aduan resmi di 0813-1436-704.
Akhirnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi publik yang nyaman dan terintegrasi.
Dengan demikian, ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi dapat berkurang secara perlahan demi Bandung yang lebih lancar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










